JAKARTA – Semangat Gerakan Pramuka untuk terus berinovasi dan menjawab tantangan zaman kembali ditunjukkan melalui Training of Trainers (ToT) LifeLeaders 2026. Sebanyak 30 pembina Pramuka dari 11 Kwartir Daerah (Kwarda) se-Indonesia mengikuti pelatihan intensif yang digelar Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka pada 26–28 Agustus 2026 di Aula Agus Salim, Taman Rekreasi Wiladatika, Cibubur, Jakarta.
Dua pembina Pramuka dari Kwartir Cabang (Kwarcab) Kota Surabaya, yakni Kak Restu Anggada Cipta dan Kak Andika Cahyadi, menjadi bagian dari peserta yang lolos seleksi ketat tersebut. Keduanya merupakan pembina aktif di Pangkalan SD Islam Al Azhar Kelapa Gading Surabaya.
Keikutsertaan mereka merupakan hasil dari proses seleksi yang cukup panjang. Selain rekomendasi berjenjang dari kwartir cabang hingga kwartir daerah, peserta harus memenuhi persyaratan administrasi, memiliki rekam jejak pembinaan, menyertakan portofolio pengalaman, serta mengantongi sertifikat Safe from Harm 3.

Bersama tiga pembina lainnya dari Jawa Timur, Restu dan Andika akhirnya dipercaya mengikuti forum pengembangan kapasitas pembina Pramuka tingkat nasional. Pelatihan tersebut menjadi ruang strategis untuk memperkuat kemampuan pembina dalam merancang kegiatan yang relevan dengan kebutuhan generasi muda dan tantangan lingkungan.
Mengusung tema “Indonesian Scout Impact Innovators for Earth”, ToT LifeLeaders 2026 difasilitasi Kwarnas Gerakan Pramuka melalui kolaborasi dengan Asia-Pacific Region World Organization of the Scout Movement (WOSM). Fokus utama pelatihan diarahkan pada pengembangan aksi sosial dan lingkungan melalui program Earth Tribe.
Para peserta dibekali metodologi design thinking untuk mengidentifikasi persoalan secara lebih mendalam sebelum menentukan solusi. Pendekatan ini mendorong pembina memahami akar persoalan lingkungan di sekitar, kemudian mengembangkan prototipe solusi yang inovatif, relevan, dan dapat diuji sebelum diterapkan secara luas.

Setiap rancangan aksi juga dikaitkan dengan agenda Scout for Sustainable Development Goals (SDGs) dalam kerangka Better World Framework. Andalan Nasional Gerakan Pramuka Bidang Kerja Sama Luar Negeri sekaligus Koordinator Nasional LifeLeaders Indonesia, Kak Yesika, menegaskan bahwa program tersebut diarahkan agar manfaatnya benar-benar dirasakan peserta didik dan masyarakat.
“Dampak kegiatan ini harus optimal dirasakan oleh peserta didik. Training LifeLeaders 2.0 tahun 2026 berfokus pada isu Earth Tribe, yakni inovasi kegiatan yang berhubungan dengan apa yang bisa dilakukan untuk kelestarian bumi,” ujarnya.
Selain pembelajaran dan pengembangan proyek sosial, ToT LifeLeaders 2026 juga menjadi ajang pertukaran budaya antarpeserta dari berbagai daerah. Dalam Malam Kebudayaan Nusantara, Kak Restu tampil membawakan Tari Remo Gagrak Anyar dengan gerakan lincah dan energik, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Kota Surabaya di hadapan para peserta dari berbagai penjuru Indonesia.

Wakil Ketua Kwarnas Bidang Kerja Sama Luar Negeri, Mayjen TNI (Purn.) Toto Siswanto, menekankan bahwa aksi berdampak tidak harus dimulai dari program berskala besar. Perubahan dapat lahir dari inisiatif sederhana di lingkungan sekitar, asalkan dilakukan secara nyata, terukur, terdokumentasi, dan berkelanjutan.
Menutup pelatihan, Toto menyampaikan satu pertanyaan yang menjadi tantangan bagi seluruh peserta, “What next?” Pesan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan ToT LifeLeaders tidak berhenti pada sertifikat, tetapi harus dibuktikan melalui service hours dan aksi nyata di daerah masing-masing.
Berbekal pengetahuan design thinking, pengalaman nasional, serta jejaring kolaborasi yang diperoleh di Cibubur, Restu dan Andika kini dihadapkan pada tugas untuk menerjemahkan pengetahuan tersebut menjadi aksi nyata di Surabaya. Melalui gerakan National Acts yang melibatkan berbagai tingkatan organisasi, mulai Kwarda, Kwarcab hingga gugus depan, keduanya diharapkan mampu mendorong gerakan peduli lingkungan sekaligus memperkuat peran pendidikan kepramukaan dalam membentuk generasi muda yang peka, peduli, dan berempati terhadap kelestarian bumi. (Dika)

