atung3

Dari Keterbatasan Jadi Inspirasi: Atung Yunarto, Pembina Pramuka Tunanetra Pimpin Semaphore Rekor MURI

Sosok Inspirasi

SURABAYA – Keterbatasan penglihatan tidak menjadi penghalang bagi Atung Yunarto untuk terus berkarya dan menginspirasi. Guru di SLB A YPAB Gebang Putih Surabaya ini membuktikan bahwa semangat, dedikasi, dan tekad mampu membuka jalan menuju berbagai pencapaian, termasuk dipercaya menjadi pemandu demonstrasi semaphore dalam kegiatan pemecahan Rekor MURI Garuda Emas, untuk Kwaran Sukolilo di Universitas Dr Soetomo Surabaya, (20/6/2026).

Sebagai penyandang disabilitas netra, Atung menjalani aktivitas sehari-hari dengan mengandalkan indera lainnya serta bantuan tongkat untuk mobilitas. Meski demikian, ia mampu beraktivitas secara mandiri, termasuk menggunakan transportasi umum seperti bus, kereta api, hingga pesawat untuk mendukung profesinya sebagai guru Matematika, IPA Fisika, Massage, sekaligus Pembina Pramuka.

Ketertarikannya pada dunia kepanduan dimulai pada tahun 2023. Setelah menyelesaikan Kursus Mahir Dasar (KMD) pada 2024 dan Kursus Mahir Lanjutan (KML) pada 2025, Atung semakin aktif mengembangkan pendidikan karakter bagi peserta didik tunanetra. Menurutnya, Pramuka menjadi sarana penting untuk menumbuhkan rasa percaya diri, kemandirian, serta mengembangkan kemampuan intelektual, mental, fisik, dan sosial para siswa berkebutuhan khusus.

atung3
Atung Yunarto seorang pembina Disabiltas Netra yang mampu memimpin demontrasi semaphore saat pemecahan rekor MURI di wilayah Surabaya Timur Kecamatan Sukolilo. (Dok.Pribadi)

Menjadi pembina semaphore bukanlah cita-cita yang direncanakan sebelumnya. Namun, kemampuannya dalam berkomunikasi dan memahami karakter peserta didik tunanetra membuat rekan-rekan pembina mempercayainya untuk memberikan pelatihan semaphore secara khusus di pangkalannya.

Dalam proses mengajar, Atung menghadapi tantangan yang tidak ringan. Sebagai pembina tunanetra yang mengajarkan semaphore kepada peserta didik tunanetra maupun penyandang disabilitas lainnya, ia membutuhkan pendamping sebagai jembatan komunikasi agar materi dapat diterima dengan baik. Menurutnya, kehadiran pendamping sangat penting untuk mempercepat proses pembelajaran dan memastikan tujuan pendidikan dapat tercapai secara optimal.

Untuk memudahkan peserta didik memahami semaphore, Atung menggunakan pendekatan unik dengan memanfaatkan delapan arah mata angin sebagai acuan posisi bendera. Metode tersebut kemudian dipadukan dengan konsep edutainment melalui demonstrasi semaphore yang diiringi musik dan lagu sehingga suasana belajar menjadi lebih menyenangkan dan tidak membosankan.

atung
Atung Yunarto (membawa Tongkat) bersama para pembina dan peserta pemecahan Rekor MURI Pramuka Garuda Emas Kwaran Sukolilo Kwarcab Surabaya. (Dok.Pribadi)

Dedikasi tersebut mengantarkannya pada keterlibatan dalam kepanitiaan pemecahan Rekor MURI Garuda Emas. Awalnya, Atung bersama rekan-rekan pembina memperjuangkan agar peserta didik mereka dapat meraih predikat Pramuka Garuda. Dari keterlibatan tersebut, ia kemudian dipercaya menjadi pemandu demonstrasi semaphore untuk wilayah Kecamatan Sukolilo.

Kepercayaan dalam kegiatan berskala nasional itu menjadi kebanggaan sekaligus amanah besar baginya. Atung merasa turut membawa nama penyandang disabilitas, khususnya tunanetra, dalam upaya memperjuangkan kesetaraan dan menghapus stigma yang masih ada di masyarakat.

Menurut Atung, dukungan yang paling dibutuhkan penyandang disabilitas untuk berkembang adalah tersedianya sarana dan prasarana yang aksesibel, serta dukungan nonfisik berupa penerimaan, pemahaman masyarakat, dan regulasi yang berpihak pada hak-hak penyandang disabilitas.

atung5
Atung Yunarto saat membina di Gugus Depan SLB A YPAB Gebang Putih Surabaya. (Dok.Prinadi)

Dari berbagai pengalaman yang dijalani, Atung memetik pelajaran berharga bahwa setiap individu, apa pun kondisinya, memiliki kesempatan untuk berkontribusi dalam mewujudkan pengakuan, penghormatan, dan pemenuhan hak yang setara di berbagai aspek kehidupan.

Ke depan, ia berharap kegiatan kepanduan di Indonesia semakin inklusif dengan melibatkan penyandang disabilitas tidak hanya sebagai peserta, tetapi juga dalam proses perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi kegiatan.

Kepada generasi muda, khususnya teman-teman berkebutuhan khusus, Atung berpesan agar tidak pernah berhenti mengembangkan diri. Ia mendorong mereka untuk meraih pendidikan setinggi mungkin, aktif dalam organisasi, serta terus mengasah keterampilan sebagai bekal untuk meraih masa depan yang lebih baik.

“Jangan pernah ragu untuk berkarya. Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkembang, tetapi tantangan untuk membuktikan kemampuan yang kita miliki,” tutup Atung. (AncuMas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *