putrikebaya

Ghifara Denok Prameswari, Putri Kebaya 2025 yang Menyatu dengan Semangat Pramuka

Sosok Inspirasi

SURABAYA — Di usianya yang baru menginjak 13 tahun, Ghifara Denok Prameswari, siswi SMP Negeri 3 Surabaya, telah menorehkan prestasi membanggakan sebagai Runner Up 2 Putri Kebaya Jawa Timur 2025. Sosok remaja yang tinggal di kawasan Asemrowo ini bukan hanya dikenal karena pesonanya dalam balutan kebaya, tetapi juga karena dedikasi dan semangat kepramukaannya yang menginspirasi.

Putri sulung pasangan Sulastiyo, S.Pd.Gr. dan Lilik Anani, S.Pd. ini menuturkan bahwa motivasinya mengikuti ajang Putri Kebaya berawal dari niat tulus untuk membanggakan orang tua dan menyalurkan bakat yang ia miliki. “Saya ingin berperan aktif dalam pelestarian kebaya dan budaya di kalangan remaja Surabaya, dan umumnya di seluruh Indonesia,” ujar Ghifara dengan senyum semangat.

putri2
Ghifara Denok Prameswari saat mengikuti Karnaval Budaya Raimuna Cabang Kota Surabaya 2025. (Foto : Thejo)

Dibalik gemerlap busana dan panggung ajang kebaya, Ghifara memaknai kebaya bukan sekadar pakaian, melainkan simbol kekuatan dan jati diri perempuan Indonesia. “Kebaya adalah kekuatan perempuan Indonesia. Saat memakainya, saya merasa bangga sekaligus terhubung dengan akar budaya bangsa,” ucapnya mantap.

Penobatan sebagai Runner Up 2 Putri Kebaya Jawa Timur 2025 pada 27 September 2025 menjadi momen istimewa baginya. Ia bersyukur atas doa keluarga, dukungan sekolah, dan kerja kerasnya sendiri hingga berhasil mencapai prestasi tersebut.

Namun, keistimewaan Ghifara tidak berhenti di dunia kebaya. Ia juga dikenal sebagai aktivis Pramuka aktif sejak duduk di bangku sekolah dasar kelas 3. Di SMPN 3 Surabaya, ia tetap aktif dalam kegiatan kepramukaan dan kerap menjadi panutan bagi teman-temannya. Salah satu momen paling berkesan baginya adalah saat dilantik menjadi Pramuka Siaga Garuda oleh Wali Kota Surabaya di Balai Kota, sebuah pengalaman yang ia sebut “tidak akan terlupakan.”

putri1
Ghifara saat dinobatkan sebagai Runner Up 2 di babak final Putri Kebaya 2025. (Foto : Dok Pribadi)

Dari Pramuka pula, Ghifara banyak belajar nilai-nilai penting seperti disiplin, kerja sama, kemandirian, dan toleransi. Nilai-nilai itulah yang kini ia terapkan dalam keseharian dan menjadi bekal tampil percaya diri di berbagai ajang. “Kegiatan Pramuka mengajarkan saya memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Bahkan saat Raimuna Cabang 2025 kemarin, saya mendapat kesempatan memperkenalkan kebaya kepada para peserta remaja,” tuturnya bangga.

Sebagai Putri Kebaya 2025 yang juga seorang Pramuka, Ghifara memiliki visi yang kuat: menjadi simbol perempuan Indonesia yang anggun, cerdas, dan berbudaya. Ia percaya kebaya dapat menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas. “Saya ingin generasi muda tidak malu mengenakan kebaya. Lewat gerakan WIDAYA (Wicara Berdaya dan Berbudaya) saya ingin menginspirasi teman-teman agar berani tampil dengan identitas budaya bangsa,” ujarnya dengan penuh keyakinan.

Tidak hanya itu, Ghifara juga memiliki ide kolaboratif antara dunia Pramuka dan pelestarian budaya. Ia berkeinginan mengadakan kirab budaya dalam kegiatan kepramukaan dengan mengenakan beragam kebaya seperti kebaya janggan, kebaya bunga, kebaya kutubaru, hingga kebaya glamour yang dipadukan dengan tren busana kekinian. Baginya, budaya harus hadir dengan sentuhan modern agar lebih dekat dengan generasi muda.

Ketika ditanya siapa sosok yang menginspirasi, Ghifara tanpa ragu menyebut dua nama R.A. Kartini dan Firsta Yufi Amarta Putri, Puteri Indonesia asal Jawa Timur. “R.A. Kartini menginspirasi saya sebagai perempuan yang memperjuangkan kesetaraan, sedangkan Kak Firsta adalah contoh nyata perempuan Jawa Timur yang membanggakan,” ujarnya.

putri3
Ghifara saat menjadi pembawa acara di pembukaan Rimuna Cabang Kota Surabaya 2025 di Kawasan Wisata Rakyat, Balong Pesapen Sumur Welut. (Foto : Thejo)

Dalam pesannya kepada generasi muda Indonesia, Ghifara menyerukan semangat cinta budaya dan pengabdian pada negeri, “Mari kita lestarikan budaya tradisi dengan menjaga dan mengenakan kebaya bukan hanya pada acara formal, tetapi juga dalam keseharian. Kalau tidak kita, siapa lagi? Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Berbakti kepada negeri tidak harus dengan senjata. Dengan melestarikan tradisi, kita sudah berbakti pada Indonesia.” ujarnya.

Selain prestasinya di ajang kebaya, Ghifara juga telah mengukir banyak pencapaian lainnya. Ia pernah menjadi Juara 2 lomba tari tradisi Jaranan tingkat provinsi, Juara parikan tingkat regional, Pramuka Siaga Garuda, Finalis National Singing Competition, Juara Vocal Group Competition Purwacaraka, dan peserta Tari Remo Massal di Surabaya.

Aktif di media sosial @ghia_dprm, Ghifara membagikan konten inspiratif seputar kebaya, budaya, dan Pramuka. Ia berharap dapat terus menjadi contoh bahwa remaja masa kini bisa tampil modern tanpa meninggalkan akar tradisi.

Dengan pesona kebaya dan semangat Tri Satya, Ghifara Denok Prameswari membuktikan bahwa generasi muda bisa berprestasi sekaligus menjaga budaya. Sebuah inspirasi nyata dari Surabaya untuk Indonesia. (Thejo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *