SURABAYA – Setelah satu dekade penantian, akhirnya Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Surabaya kembali menorehkan sejarah dengan terselenggaranya Raimuna Cabang Surabaya 2025.
Kegiatan yang berlangsung di Sentra Wisata Kuliner Balong Pesapen, Sumur Welut, itu resmi mencapai puncaknya pada Sabtu malam, 25 Oktober 2025, bertepatan dengan Malam Bung Tomo, malam yang sarat makna perjuangan dan semangat kepahlawanan arek-arek Suroboyo.
Malam penutupan itu bukan sekadar akhir dari rangkaian kegiatan, tetapi juga menjadi momentum emosional bagi seluruh peserta. Salah satunya adalah Farah Maulidia, peserta dari SMK Negeri 4 Surabaya, yang tak bisa menyembunyikan rasa haru dan bangganya.

“Seru banget ikut malam Bung Tomo ini, bisa belajar dari semangat perjuangan beliau. Rasanya juga senang dan puas, karena dua hari kegiatan penuh akhirnya sampai di puncaknya,” ungkap Farah dengan mata berbinar.
Baginya, Raimuna kali ini bukan hanya ajang perkemahan dan kegiatan seru, melainkan wadah pembelajaran tentang nilai-nilai perjuangan, persaudaraan, dan dedikasi yang tertanam kuat dalam jiwa Pramuka.
Sementara itu, Rahma Desta, ketua Sangga Kerja Raimuna Cabang 2025, juga menyampaikan rasa syukurnya atas suksesnya kegiatan ini.

“Penutupan malam ini keren banget, vibes-nya lebih terasa daripada pembukaan karena dilaksanakan malam hari. Rasanya haru, karena akhirnya setelah 10 tahun, Raimuna Cabang bisa terlaksana lagi di Kota Surabaya,” ujar Desta penuh semangat.
Menurutnya, terakhir kali Raimuna Cabang Surabaya digelar adalah pada tahun 2014, dan baru di 2025 kegiatan ini kembali terwujud. Hal ini tentu menjadi capaian besar yang patut diapresiasi seluruh pihak.
“Saya bangga bisa jadi bagian dari sejarah ini. Semoga ke depan, kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut dan semakin semangat bersinergi untuk Pramuka Penegak dan Pandega di Surabaya,” tambahnya.
Raimuna Cabang Surabaya 2025 tidak hanya menjadi ajang pertemuan antar Pramuka Penegak dan Pandega, tapi juga simbol kebangkitan semangat Pramuka Surabaya setelah sekian lama vakum. Malam Bung Tomo menjadi saksi betapa nilai perjuangan, nasionalisme, dan persaudaraan masih hidup di dada generasi muda Kota Pahlawan.

Ketika api unggun terakhir perlahan padam di bawah langit malam Sumur Welut, tepuk tangan peserta menggema. Di wajah mereka tersirat kelelahan, tapi juga kebanggaan dan harapan baru. Setelah sepuluh tahun penantian, Raimuna Cabang Surabaya akhirnya kembali menyala membawa semangat Bung Tomo untuk terus hidup di hati Pramuka muda. (Novi-Fakih/Unitomo)
